DISKUSI TERARAH PENGUATAN PERAN INSTITUSI

  • 29/Mar/2021
  • Admin
  • Berita
  • 217120

Menindaklanjuti Kunjungan Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Ketahanan Industri Obat dan Alat Kesehatan, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, PhD ke B2P2TOOT pada 3 Maret 2021, pada hari ini 29 Maret 2021, diselenggarakan Diskusi Terarah dengan tema Penguatan Peran Balai Besar Penelitian dan Pengambangan Tanaman obat dan Obat Tradisional dan BUMN kesehatan dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Tradisional di Tawangmangu. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari dengan fokus pada 4 bahasan yang dapat diikuti secara daring dan luring yaitu:

1) Hubungan peneliti jamu dengan industri, dengan pemrasaran dari Ketua Panitia pembina Ilmiah B2P2TOOT, Direktur PT Swayasa UGM, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu, Direktur PT Indofarma dan Direktur PT Biofarma.

2) Masa depan kebun tanaman obat, dengan pemrasaran dari Kepala B2P2TOOT, Kepala Kebun Raya Purwodadi dan Kepala Balittro.

3) Sistem informasi supply chain jamu, dengan pemrasaran dari Direktur PT Konimex, Ketua GP Jamu, Direktur Prodis Kefarmasian dan Kepala Pusdatin.

4) Pengembangan klinik jamu ke pelayanan primer pemerintah dan swasta, dengan pemrasaran dari Koordinator Rumah Riset Jamu Hortus Medicus, Kepala Puslitbang Sumber Daya dan pelayanan Kesehatan, Direktur pelayanan Kesehatan Tradisional, dan Direktur Kimia Farma.

Obat tradisional sangat potensial untuk dikembangkan dalam sektor kesehatan. Terdapat banyak tantangan dalam pengembangan obat tradisonal, salah satunya adalah hubungan antara obat tradisional atau jamu dengan pelayanan kesehtan primer dan rujukan yang belum optimal. Jamu belum menjadi bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional. Diskusi terarah ini bertujuan untuk memperoleh peta peran B2P2TOOT dan BUMN Kesehatan dalam pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional.

Sambutan Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu, M.Sc.PH di awal acara mengungkapkan, “Jamu dapat dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat. Tujuan dari pertemuan ini adalah adanya masukan terkait kelembagaan dan rekomendasi-rekomendasi terkait pengembangan jamu maupun pelayanan kesehatan tradisional”. Prof. Laksono dalam sambutannya mengatakan, “Dalam konteks pengembangan obat tradisional kita paham betul, bahwa pada masa pandemi Covid-19 situsasi sangat menantang dan juga menggairahkan. Pengembangan jamu tidak semudah seperti yang dibicarakan, apa yang tertulis dan apa yang ada di lapangan seringkali menjadi gap. Dalam konteks pengembangan jamu, kita paham betul bahwa situasi sangat menantang dan juga menggairahkan. Pada masa pendemi ini, industri jamu sedang mengalami kenaikan, baik industri jamu modern maupun industri jamu rumahan”. (il)