Kunjungan Tim Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil, Kementerian Perindustrian

  • 15/Nov/2021
  • Admin
  • Berita
  • 58

“Kami sedang melakukan suatu kajian yang berkaitan dengan percepatan Fitofarmaka dan tergabung dalam Bidang 5 Satuan Tugas Percepatan Fitofarmaka, ungkap Direktur Industri Kimia Hilir dan, Farmasi Kementerian Perindustrian dalam kunjungannya ke B2P2TOOT Tawangmangu pada 15 November 2021. Beliau juga mengungkapkan bahwa Bidang 5 fokus pada produksi dan promosi Fitofarmaka (FF). Ditjen IKFT berencana akan mengadakan Focus Group Discussion yang akan melibatkan B2P2TOOT untuk membahas pengembangan FF yang mengarah pada pengembangan di industri. Permenkes No. 17 tahun 2019 menjadi rujukan dalam kajian tersebut bahwa pengembangan farmasi didasarkan pada 4 pilar, yaitu: obat berbasis bahan kimia, pengembangan vaksin, pengembangan bioteknologi dan pengembangan produk farmasi berbasis herbal. Ditjen IKFT menggaris bawahi pada pilar ke 4 dengan berdasarkan pada data sepuluh jenis penyakit teratas yang menggunakan layanan JKN melalui BPJS. Merujuk pada data tersebut, Ditjen IKFT mengembangkan produk FF dalam skala produksi di pabrik untuk penanganan penyakit jantung dan diabetes. Kunjungan ke B2P2TOOT Tawangmangu ini bertujuan untuk berdiskusi dan menggali informasi mengenai potensi-potensi tanaman obat dan obat tradisional untuk percepatan Fitofarmaka.

Kepala B2P2TOOT menjelaskan bahwa program Saintifikasi Jamu (SJ) yang dilakukan oleh B2P2TOOT telah dimulai sejak tahun 2010. Program SJ telah menghasilkan 12 ramuan Jamu Saintifik. B2P2TOOT juga melakukan Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) yang berhasil mengidentifikasi ramuan-ramuan tradisional dari etnis-etnis di Indonesia. Hasil Saintifikasi Jamu dan RISTOJA merupakan modal dasar untuk dikembangkan penelitian lebih lanjut mengarah ke FF. Untuk perencanaan di 2022, B2P2TOOT telah menyusun protokol penelitian pengembangan OHT ke arah FF. Pada TAHUN2021 ini, B2P2TOOT telah menginisiasi kerja sama kegiatan litbang dengan pihak industri dan telah menemukan produk industri yang potensial untuk dikembangkan menjadi FF. Dengan adanya transformasi kelembagaan, maka kegiatan kelitbangan tersebut akan dialihkan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Pemanfaatan Jamu, OHT dan FF di bidang kesehatan telah banyak digunakan oleh dokter dan dilindungi oleh undang-undang praktek kedokteran. Yang diperlukan saat ini adalah mendorong para tenaga medis untuk menggunakan jamu, OHT dan FF tersebut. Pengembangan FF berkaitan dengan petani tanaman obat, middle man (tengkulak), penanganan pasca panen, pelaku industri, dan pemangku kebijakan. Perlu sinergi antar masing-masing kementerian dan lembaga sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dalam percepatan FF.